KEADAAN FISIK WILAYAH

Pembangunan wilayah menurut UU No.4. 1984 tentang  ketentuan pokok lingkungan hidup harus berwawasan lingkungan. Berdasarkan UU tersebut, pembangunan fisik harus memperhatikan keseimbangan lingkungan sehingga dapat menghindari bencana seperti tanah longsor, banjir ataupun sedimentasi. Ketersediaan air tanah dan air permukaan, keanekaragaman plasma nutfah yang merupakan kekayaan alam hayati merupakan hal lain yang perlu diperhatikan dalam pembangunan.

1. IKLIM DAN SUHU

Kabupaten Murung Raya terletak pada daerah beriklim panas dan lembab, karena secara geografis, masih terletak di sekitar khatulistiwa dan bercurah hujan tinggi. Suhu berkisar 22° C - 35° C. Curah Hujan di Kabupaten Murung Raya   mulai dari wilayah Selatan  hingga ke pedalaman yang menjadi semakin meningkat. Jumlah curah hujan  > 4000 mm / tahun meliputi sebagian kecil Kecamatan Sumber Barito (243.675 ha), curah hujan 3000 – 4000 mm / tahun meliputi Kecamatan Tanah Siang, sebagian Kecamatan Sumber Barito dan  Kecamatan Laung Tuhup, curah hujan antara 3000 – 3500 mm / tahun meliputi Kecamatan Tanah Siang, Kecamatan Laung Tuhup, Permata Intan dan sebagian kecil Kecamatan Sumber Barito, curah hujan antara 2500 – 3000 mm / tahun sebagian Kecamatan Murung, Laung Tuhup, dan Kecamatan Permata Intan. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 228 hari / tahun.

            Periode curah hujan tinggi yang terjadi pada bulan November sampai dengan April, tingginya curah hujan tersebut dimungkinkan karena pengaruh adanya DKAT (Daerah Konfergensi Antar Tropik). DKAT adalah suatu zone atau daerah yang lebar dimana suhu udaranya tertinggi dan disebut pula equator termal, suhu tinggi tersebut menyebabkan gerakan udara naik karena pemanasan dan tekanan udaranya menjadi rendah. Kemudian terjadi gerakan udara dari daerah sekitarnya yang lebih dingin menuju daerah DKAT. Udara yang bergerak tersebut dalam perjalanannya melalui perairan yang banyak sehingga banyak pula mengandung air. Udara yang naik pada daerah DKAT menyebabkan mengembangnya kembali uap air dan turunlah hujan (menuju konfeksi).

Tabel 3.1.

Rata-rata Kecepatan Angin dan Arah Angin

di Kabupaten Murung Raya Tahun 2007 –2009

 

Bulan

2007

2008

2009

Rata-rata

Kecepatan

(Knots)

Arah

 

Rata-rata

Kecepatan

(Knots)

Arah

 

Rata-rata

Kecepatan

(Knots)

Arah

 

(1)

(4)

(6)

(6)

(5)

(6)

(7)

Januari

5

Variabel

5

Barat Daya

5

Barat Daya

Pebruari

5

Variabel

4

Barat

4

Barat Daya

Maret

5

Variabel

4

Barat Daya

4

Barat Daya

April

5

Variabel

4

Variabel

4

Timur Laut

M e i

5

Variabel

4

Variabel

4

Timur Laut

J u n i

4

Barat Daya

4

Barat Laut

5

Barat

J u l i

4

Variabel

5

Barat

5

Barat

Agustus

4

Variabel

4

Utara

4

Variabel

September

5

Variabel

5

Selatan

5

Barat Daya

Oktober

5

Variabel

4

Utara

5

Selatan

Nopember

4

Variabel

4

Timur

5

Barat

Desember

5

Barat Daya

5

Barat Daya

4

Barat

                                                 Sumber : Stasiun Meteorologi Beringin Muara Teweh

 

            Rata-rata kecepatan angin tahun 2009 di Kabupaten Murung Raya cenderung stabil pada tiap bulannya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Sedangkan untuk arah angin ada perubahan dari tahun sebelumnya, yaitu angin yang pada tahun 2007 sebagian besar arahnya tidak stabil (variabel).

2. GEOLOGI

Secara umum, kemampuan lingkungan alam untuk mendukung kebutuhan hidup manusia tergantung dan dipengaruhi oleh kemampuan dan cara pengelolaan serta pengolahan manusia terhadap lingkungan alamnya. Dalam pengertian tersebut, maka cara dan kemampuan manusia tersebut adalah dengan mempertimbangkan kondisi dan karakteristik alamiah lingkungan alamnya, salah satunya adalah faktor geologi lingkungan. Faktor geologi penting terhadap kegiatan pertanian karena berkaitan dengan kemampuan lahan dan batuan pembentuk tanah menurut jenis-jenisnya, di samping ditinjau dari sifat-sifat bahaya.

                Berdasarkan Peta Geologi Wilayah Kabupaten Murung Raya sebagian terdiri dari formasi geologi yang tergolong tua, kecuali daerah endapan aluvium (kwater) di bagian selatan. Susunan bantuan geologinya ialah sebagai berikut ;

1.     Kwater, merupakan batuan aluvium/endapan dari kerikil yang     membentang di dataran rendah.

2.     Miosis,  merupakan batuan sedimen batu bara, batu pasir, lempung, seringkali dengan sisipan batu gamping tipis.

3.     Paelogen, mencakup semua endapan eosen dan oligosen, yang terdiri dari konglomerat alas pada bagian bawah, disusul oleh batu gamping dan napal-lempung pada bagian atas.

4.     Mesozoikum, merupakan batuan facies sedimen dan gunung api, terdiri dari batuan lelehan dan piroklastik bersusun basa dan intermediter, batu pasir, konglomerat, sabak, kersik, serpih, lempung, dan batu gamping.

5.     Batuan Dalam,  terdiri dari granit dan granodirit 

Manfaat pemahaman kondisi dan karakteristik geologi terhadap pembangunan, misalnya dalam hal pembangunan jaringan jalan. Jaringan jalan yang dibangun di atas jenis tanah gromosol berpotensi tidak akan berumur panjang, karena salah satu sifat fisik tanah jenis ini mudah mengembang jika basah dan akan retak-retak jika tanah kembali kering di musim kemarau. Dengan demikian akan mempengaruhi kekuatan konstruksi jalan yang harus dibangun secara khusus, tetapi akan berbenturan dengan ketersediaan dana yang relatif terbatas. Dalam konteks penyusunan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Murung Raya maka hasil analisa geologi tata lingkungan meliputi ;

a.     Kawasan yang aman untuk dihuni, yang tersebar hampir di seluruh kecamatan, dengan sistem lahan dataran sampai perbukitan.

b.    Kawasan rawan - 1 , yaitu kawasan-kawasan yang memiliki drainase buruk, tergenang secara periodik, permukiman sporadis. Kawasan demikian tidak terdapat di Kabupaten Murung raya.

c.     Kawasan rawan - 2, yang memiliki drainase buruk dan merupakan kawasan tergenang sepanjang tahun. Kawasan demikian juga tidak terdapat di Kabupaten Murung Raya.

d.    Kawasan rawan - 3, kawasan yang merupakan daerah erosi dan resapan air. Kawasan demikian terdapat di sekitar pegunungan dan teras - teras yang terdapat di sebagian setiap kecamatan di Kabupaten Murung Raya. 

3. FISIOGRAFI

3.1 Kelerengan

Yang dimaksud lereng adalah perbedaan ketinggian dua tempat yang berbeda yang dinyatakan dalam persentase. Artinya berupa meter beda tinggi antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya dibagi dengan jarak kedua tempat tersebut. Lereng merupakan salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam pengelolaan tanah untuk menjaga kelestarian tanah. Sehingga dalam pengelolaan akan diperlukan syarat - syarat tertentu pada lereng tertentu pula. Agar tanah tersebut memberi manfaat yang sebesar­besarnya.

3.2 Kedalaman Efektif

Kedalaman efektif tanah sangat penting bagi pertumbuhan akar tanaman. Makin dalam makin baik bagi pertumbuhan tanaman. Jenis tanah erat kaitannya dengan kedalaman efektif. Wilayah Kabupaten Murung Raya  sebagian besar mempunyai kedalaman efektif lebih dari 90 cm atau lebih. Tanah yang dalam lebih banyak terdapat pada jenis tanah Oksisol, podsolik, dan Litosol. Pada tanah podsolik dan regosol sering terdapat lapisan padas pada kedalam tertentu, sehingga sulit ditembus akar tanaman. Tanah walaupun dalam, penggunaannya untuk tanah pertanian masih dipengaruhi tingkat kematangan dan keadaan drainasenya. Di Murung Raya lahan dengan kedalaman efektif lebih dari 30 - 90 cm terletak di bagian Selatan termasuk diantaranya Tanah Siang.

Dalam kaitannya dengan kondisi geologi, sebagian besar wilayah Kabupaten ini adalah Platad Batuan Pasir Miosen, Eosin sisipan batubara, Eosin bawah, fesies batuan pasir, yang terletak di bagian utara yang terjal. Sedang di bagian selatan terdapat batuan baku leleran muda.

3.3 Tekstur Tanah

Tekstur tanah menyatakan jumlah relatif antara fraksi tanah liat, debu dan pasir dalam tanah. Wilayah Kabupaten Murung Raya  terdiri dari  80 % bertekstur halus, yakni di Kecamatan Sumber Barito, Tanah Siang,  Permata Intan, dan Laung Tuhup. Sedang sebagian kecil di sebelah Barat Kecamatan Sumber Barito terdapat tanah ber tekstur sedang. Menurut peta tekstur tanah di Kabupaten Murung Raya tidak terdapat tanah bertekstur kasar.

Tabel 3.2.

Keadaan Tekstur Tanah Wilayah per Kecamatan  di Kabupaten Murung Raya Tahun 2009

Kecamatan

T e k s t u r ( Ha )

Jumlah

Halus

Agak Halus

Kasar

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

Permata Intan

122.700

0

0

122.700

Sungai Babuat

*)

*)

*)

*)

Murung

23.759

49.241

0

73.000

Laung Tuhup

128.338

182.762

0

311.100

Barito Tuhup Raya

*)

*)

*)

*)

Tanah Siang

152.200

2.700

0

154.900

Tanah Siang Selatan

*)

*)

*)

*)

Sumber Barito

1.411.345

296.955

0

1.708.300

Seribu Riam

*)

*)

*)

*)

Uut Murung

*)

*)

*)

*)

Jumlah

1.838.342

531.658

0

2.370.000

               

4. JENIS DAN KEMAMPUAN TANAH

 Dalam era peningkatan pelaksanaan kegiatan dan volume pembangunan, tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang selalu dibutuhkan dalam setiap kegiatan. Tanah sebagai letak kegiatan yang dibebani untuk menampung semua kegiatan mengakibatkan kebutuhan akan tanah semakin bertambah, sementara luas tanah senantiasa tetap.

 Disamping luas tanah yang tidak akan pernah bertambah, tidak semua tanah dapat digunakan untuk berbagai jenis kegiatan bebas, karena tanah mempunyai faktor pembatas, baik dari segi fisik maupun dari segi hukum. Faktor pembatas, dari segi fisik yaitu: kemampuan tanah, ketinggian, jenis tanah, kesuburan dan lain sebagainya, sedangkan dari segi hukum meliputi penguasaan hak yang telah ada diatas tanah tersebut.

 Menurut keadaan wilayahnya Kabupaten Murung Raya tanahnya terdiri dari berbukit-bukit dengan ketinggian dari permukaan laut antara 25-400 m. Sedangkan dataran rendah terdapat pada bagian Selatan membentang sejauh lebih kurang 150 Km ke Utara dan merupakan tanah dengan derajat keasaman kurang dari 7. Jenis tanah daerah selatan berbeda jenis tanah yang terdapat daerah hulu utara. Jenis tanah yang terbentuk erat hubungannya dengan bahan induk (geologi), iklim dan keadaan medannya. Berdasarkan keadaan tanah yang ada, maka secara garis besar jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Murung Raya yaitu :

1.         Oksisol (Laterilik)

Jenis tanah oksilik (lateritik) memiliki wilayah paling luas, dan hampir meliputi seluruh wilayah  bagian atas (hulu). Keadaan medan bergelombang, berbukit, dan bergunung dengan solum tanahnya dalam. Tanah jenis ini memiliki tekstur halus, berdrainase baik, hanya saja daerah ini curah hujan sangat tinggi. Warna tanah oksolik adalah kuning kemerahan dan termasuk jenis tanah yang telah lanjut mengalami perkembangan pelapukan.

2.         Podsolik

Tanah podsolik merupakan jenis tanah yang sering dijumpai terletak menyebar di tengah sampai hulu sungai. Tanah podsolik telah mengalami  perkembangan lebih lanjut, bersolum dalam, terbentuk dari bahan induk batu liat, dengan bentuk wilayah berombak sampai agak berbukit. Warna tanah podsolik ini adalah warna coklat sampai merah kuning dengan tekstur halus sampai kasar, dan memiliki drainase baik dengan reaksi tanah masam.

3.         Litosol

Jenis tanah ini memiliki solum dangkal dan berbatu, serta membentang di puncak Pegunungan Muller dengan ketinggian lebih dari 500 meter sampai 1000 meter di atas permukaan laut. Keadaan tanah yang terjal dan curah hujan tinggi  menyebabkan erosi cukup berat sehingga menyebabkan tanah - tanah dangkal berbatu.

Kemampuan tanah suatu wilayah dapat menjadi kendala utama bagi pengembangan wilayah terutama bagi pengembangan sektor-sektor perekonomian yang memerlukan lahan yang produktif seperti pertanian dan perkebunan. Lahan dengan kemampuan tanah yang tinggi berpotensi tinggi pula untuk berbagai penggunaan, sehingga memungkinkan penggunaan lahan yang intensif untuk berbagai jenis kegiatan. Kemampuan tanah terdiri dari unsur­-unsur lereng, kedalaman efektif, tekstur, drainase, tingkat erosi dan faktor pembatas lainnya seperti batu pasir dan cadas.

5. KETINGGIAN

 

Untuk daerah tropis, ketinggian wilayah merupakan unsur penting dalam menentukan persediaan fisik tanah. Dengan adanya perbedaan tinggi akan menentukan perbedaan suhu yang kemudian menentukan jenis tanaman yang cocok untuk diusahakan.

Tabel 3.3.

Ketinggian Wilayah Ibukota Kecamatan di Kabupaten Murung Raya  Tahun 2008

 

KECAMATAN

Kota

Ketinggian

District

City

Height (m)

(1)         

(2)         

(3)         

 1. Permata Intan

Tumbang Lahung

137

 2. Sungai Babuat

Tumbang Bantian

137

 3. Murung

Puruk Cahu

125

 4. Laung Tuhup

Muara Laung

123

 5. Barito Tuhup Raya

Makunjung

123

 6. Tanah Siang

Saripoi

145

 7. Tanah Siang Selatan

Dirung Lingkin

145

 8. Sumber Barito

Tumbang Kunyi

700

 9. Seribu Riam

Muara Joloi

700

10. Uut Murung

Tumbang Olong

700

 

Menurut keadaan wilayahnya Kabupaten Murung Raya tanahnya terdiri dari berbukit-bukit dengan ketinggian dari permukaan laut antara 123-700 m. Sedangkan dataran rendah terdapat pada bagian Selatan membentang sejauh lebih kurang 150 Km ke Utara dan merupakan tanah dengan derajat keasaman kurang dari 7. Sedangkan perbatasan wilayah dengan Propinsi Kalimantan Timur bagian selatan sebagian besar terdapat puncak bukit yang tidak terlalu tinggi dari jajaran pegunungan Meratus. Pada kiri kanan dataran rendah tersebut terdiri dari dataran tinggi, perbukitan, pegunungan lipatan dan patahan, terdapat adanya tanah berwarna merah, kuning serta batuan induk hasil endapan, batuan beku dan batu-batuan lainnya.


 

 

 
   Sumber : Analisis Data Statistik Litbang Bappeda, 2010  
 
 
 
 
 

Powered by Team BAPPEDA Murung Raya © 2009-2010, untuk ww.kabmurungraya.go.id
Webmaster Bidang Litbang Bappeda:  Jln  R. Soeprapto No.2 Puruk Cahu Telp 0528-31898, 31901

 email bappeda_kabmura@yahoo.com Murung Raya Kalimantan Tengah Indonesia
Situs ini kan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 X 768 dan di Browser IE 5+