TINJAUAN EKONOMI MURUNG RAYA 2005-2009

 2.1 STRUKTUR EKONOMI

                Kalimantan Tengah merupakan daerah dengan struktur ekonomi yang relatif konstan. Sektor pertanian sangat dominan dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.

                Perekonomian Murung Raya secara umum didominasi oleh sektor primer, yaitu sektor pertanian serta sektor pertambangan dan penggalian. Tahun 2005 – 2007 sektor pertanian lebih dominan dibandingkan dengan sektor pertambangan dan penggalian. Sektor pertambangan dan penggalian mulai menggeser posisi pertama pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2009.

Peran sektor pertanian terhadap perekonomian Murung Raya dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 terus mengalami penurunan. Larangan pembakaran lahan diduga sebagai faktor dominan penyebab penurunan ini, karena masyarakat Murung Raya terbiasa melakukan pembakaran lahan untuk membuka lahan pertanian baru.

Pergerakan struktur ekonomi Murung Raya secara lebih jelas dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1 Peranan Sektor Ekonomi dalam PDRB Murung Raya

Atas Dasar Harga Berlaku, 2005-2009 (Persen)

 

SEKTOR

2005

2006

2007

2008*)

2009**)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1. Pertanian

34.12

34.51

33.34

30.83

28.95

2. Pertambangan dan Penggalian

31.19

29.83

30.74

32.35

33.95

3. Industri Pengolahan

3.18

3.26

3.27

3.23

3.12

4. Listrik, Gas dan Air Bersih

0.35

0.42

0.45

0.44

0.44

5. Bangunan/Konstruksi

3.53

3.90

4.28

4.54

4.88

6. Perdag, Hotel  & Restoran

9.53

9.38

9.36

9.36

9.53

7. Pengangkutan dan Kom.

6.67

7.08

6.97

6.80

6.44

8. Keuangan, Persewaan & J.Persh

1.90

2.12

2.21

2.42

2.29

9. Jasa-jasa

9.54

9.49

9.39

10.03

10.42

TOTAL

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

Sektor pertambangan dan penggalian merupakan kontributor terbesar dalam perekonomian Murung Raya. Pada tahun 2006, kontribusinya sempat mengalami penurunan dibandingkan tahun 2005. Namun pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 sektor ini menyumbang 33,95 persen terhadap total perekonomian Murung Raya. Sedangkan 33,40 persen dari sektor pertambangan dan penggalian disumbang oleh sub sektor pertambangan non migas.

Di samping sektor pertambangan dan penggalian, sektor pertanian juga memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian Murung Raya. Peran sektor pertanian dimotori oleh sub sektor tanaman perkebunan, yaitu perkebunan karet yang memberi kontribusi sebesar 11,18 persen pada tahun 2009. Pada penghujung tahun 2008 sempat terjadi penurunan harga komoditas karet akibat adanya krisis global, namun pada tahun 2009 harga komoditas karet meskipun perlahan menunjukkan peningkatan. Penurunan kontribusi sub sektor ini ternyata juga berpengaruh terhadap penurunan peran sektor pertanian Murung Raya pada tahun 2009 menjadi 28,95 persen dari 30,83 persen pada tahun 2008.

Di urutan berikutnya, sektor jasa memberikan peran yang cukup besar terhadap perekonomian Murung Raya dengan sub sektor jasa pemerintahan umum sebagai kontributor terbesarnya. Secara umum sub sektor ini juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sub sektor inilah yang menunjukkan seberapa besar pengeluaran pemerintah dapat turut berperan dalam perekonomian Murung Raya. Pada tahun 2009 peran sektor jasa sebesar 10,42 persen, sedangkan 9,53 persen-nya adalah dari sub sektor pemerintahan umum.

Disusul di urutan berikutnya, sektor perdagangan, hotel dan restoran yang tidak mau ketinggalan dalam meningkatkan perekonomian Murung Raya. Kontribusinya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Peran sektor ini di tahun 2009 adalah sebesar 9,53 persen, dengan sub sektor perdagangan sebagai kontributor terbesar, yaitu sebesar 8,64 persen. Sektor ini mempunyai peran penting dalam perekonomian Murung Raya, mengingat kurangnya produktivitas sektor-sektor sekunder. Dengan demikian kebutuhan masyarakat akan output sektor sekunder dapat dipenuhi melalui sektor perdagangan.

Sektor yang tak kalah penting dalam menunjang perekonomian Murung Raya adalah sektor pengangkutan dan komunikasi. Jika dikaitkan dengan sektor ekonomi yang dibahas sebelumnya, yaitu sektor perdagangan, sub sektor pengangkutan mempunyai peran yang sangat penting dalam menunjang sektor perdagangan. Sejak tahun 2007 kontribusi sektor ini mengalami penurunan, sehingga dapat dikatakan tidak sejalan dengan sub sektor perdagangan. Atau dengan kata lain, margin perdagangan lebih besar dibandingkan margin transportasi. Kondisi ini dapat terjadi apabila sebagian besar margin perdagangan diperoleh dari komoditas yang berasal dari wilayah Murung Raya, yaitu komoditas pertanian. Pada tahun 2009 sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi sebesar 6,44 persen.

Sektor bangunan menempati urutan keenam dengan kontribusi sebesar 4,88 persen pada tahun 2009. Sektor ini terus mengalami peningkatan seiring pembangunan infrastruktur yang tampak nyata di Murung Raya.

Peran sektor industri pengolahan dari tahun ke tahun mengalami pasang surut. Kontribusi tertinggi diberikan pada tahun 2007 dan terus mengalami penurunan setelah saat itu. Diperlukan penanaman modal di berbagai jenis industri untuk dapat menggairahkan sektor ini. Pada tahun 2009 kontribusi sektor industri pengolahan sebesar 3,12 persen.

Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan berada di urutan kedelapan dengan kontribusi terhadap perekonomian Murung Raya tahun 2009 sebesar 2,29 persen. Akibat krisis global yang terjadi di penghujung tahu 2008, sub sektor bank memerlukan waktu recovery yang tidak singkat. Nilai tambah yang dihasilkan seluruh bank yang ada di Murung Raya pada tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2008, sehingga kontribusi terhadap perekonomian ikut terseret mundur. Namun sebelum 2008, kontribusi sub sektor ini memberikan pola yang terus meningkat.

Urutan terakhir kontributor perekonomian Murung Raya adalah sektor listrik dan air bersih. Listrik masih merupakan barang sekunder bagi masyarakat Murung Raya. Bukan karena masalah daya beli masyarakatnya, tetapi lebih kepada masalah ketersediaannya. Masih banyak wilayah Murung Raya yang belum tersentuh listrik. Sedangkan aiir sebagai kebutuhan pokok manusia dapat  dengan mudah diperoleh oleh masyarakat Murung Raya yang sebagian besar tinggal di derah aliran sungai. Dua hal di atas merupakan argumentasi dasar atas kecilnya kontribusi sektor listrik dan air bersih terhadap perekonomian Murung Raya. Dari tahun ke tahun kontribusinya terhadap perekonomian Murung Raya rata-rata tidak banyak berubah. Pada tahun 2009 sektor ini hanya memberi kontribusi sebesar 0,44 persen.

 

2.2 PERTUMBUHAN EKONOMI

                 Perekonomian Indonesia secara umum, termasuk Kalimantan Tengah pada tahun 2009 tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan tahun 2008. Berbagai hal yang diduga sebagai penyebab adalah adanya krisis global di penghujung tahun 2008. Murung Raya sebagai salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah yang mengandalkan perekonomian di sektor primer sebagai penyumbang terbesar tidak luput dari pengaruh krisis global.

                Pertumbuhan ekonomi Murung Raya tahun 2009 melambat dibandingkan tahun 2008, yaitu dari 5,21 persen menjadi 5,04 persen, sejalan dengan perlambatan perekonomian Kalimantan Tengah secara keseluruhan, yaitu dari 6,16 persen di tahun 2008 menjadi 5,48 persen di tahun 2009.

                Pertumbuhan ekonomi dan nilai PDRB atas dasar harga konstan dari tahun 2005 sampai dengan 2009 secara lengkap dapat dilihat pada tabel

 Tabel PDRB Atas Dasar Harga Konstan dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Murung Raya, 2005-2009

 

Tahun

PDRB ADHK

(Juta Rp)

Pertumbuhan

(%)

(1)

(2)

(3)

2005

752,437.89

2.33

2006

775,928.68

3.12

2007

809,394.83

4.31

2008*)

851,599.63

5.21

2009**)

894,489.16

5.04

 PDRB Murung Raya yang dihitung dengan harga tahun dasar 2000 menunjukkan laju pertumbuhan yang selalu meningkat dari tahun 2005 sampai dengan puncaknya pada tahun 2008. Jika dilihat nilai PDRB-nya tetap mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, demikian juga dengan tahun 2009, nilai PDRB atas dasar harga konstan 2000 meningkat dari 852 milyar rupiah pada tahun 2008 meningkat menjadi 894 milyar rupiah pada tahun 2009. Namun jika dilihat laju pertumbuhannya, tahun 2009 mengalami perlambatan dibandingkan dengan tahun 2008.

Laju pertumbuhan sektoral dapat menjelaskan sektor-sektor mana yang memicu terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi Murung Raya pada tahun 2009. Data selengkapnya disajikan pada tabel 2.2.2.

 

Tabel Pertumbuhan PDRB Murung Raya

Menurut Sektor, 2005-2009 (Persen)

SEKTOR

2005

2006

2007

2008*)

2009**)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1. Pertanian

3.78

1.81

0.36

-0.71

4.10

2. Pertambangan dan Penggalian

2.78

2.50

9.42

11.04

5.70

3. Industri  Pengolahan

5.53

5.68

1.97

3.77

5.10

4. Listrik dan  Air Bersih

17.94

15.04

8.72

7.39

10.80

5. Bangunan/Konstruksi

18.08

14.48

12.65

11.61

10.22

6. Perdagangan, Hotel  &  Restoran

(14.47)

1.72

3.56

4.19

4.80

7. Pengangkutan  dan Komunikasi

1.91

2.11

3.18

4.88

5.27

8. Keuangan Persewaan & J.Persh

14.89

11.26

6.71

11.48

0.68

9. Jasa-jasa

5.59

5.23

1.03

4.30

4.39

PDRB

2.33

3.12

4.31

5.21

5.04

 
   Sumber : Analisis Data Statistik Litbang Bappeda, 2010  
 
 
 
 
 

Powered by Team BAPPEDA Murung Raya © 2009-2010, untuk ww.kabmurungraya.go.id
Webmaster Bidang Litbang Bappeda:  Jln  R. Soeprapto No.2 Puruk Cahu Telp 0528-31898, 31901

email bappeda_kabmura@yahoo.com Murung Raya Kalimantan Tengah Indonesia
Situs ini kan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 X 768 dan di Browser IE 5+